Selasa, 26 April 2011

my cerpen : Kepedihan


KEPEDIHAN

Semuanya begitu gelap tak kentara. Bahkan warna merah dalam kejapan matapun tak dapat Nuke rasakan. Kini tubuhnya tebujur lemah tak berdaya dalam ruangan pavilion rumah sakit. Sejak kemarin, tepatnya pukul 01.00 tengah hari, dia mulai tak sadarkan diri. Badannya terasa panas, wajahnya pucat, keringatnya bercucuran dan matanya memandang kosong. Setelah itu matanya tertutup.
Nuke tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya setelah tranfusi itu. yang ia ingat, dia sempat beradu mulut dengan perawat yang bekerja di rumah sakit itu.
***
“ Mbak, bukannya nunggu hangat dulu ya darahnya? Kok sudah dimasukin ketubuh saya, padahalkan baru dua jam, biasanya kan nyampek sebelas jam mba…   ”. terang Nuke kepada perawat baru yang dia sendiri belum kenal dan terbiasa dengannya.
“ Udah kok dek! ” Jawab perawat itu yakin.
“ Lho! Tapi mbak? Biasanya perawat lain itu nggak gitu mbak…” Nuke menjelaskan.
“ Nggak pa pa dek, inikan sudah hangat!” ucap perawat itu pada Nuke penuh percaya diri.
Nuke yang tak tahu apa-apa soal medis terima saja dengan perlakuan itu. walaupun dia sendiri tak yakin dengan apa yang dilakukan oleh perawat itu benar. Biasanya perawat yang mengurusnya memasukkan darah setelah darah itu benar-benar hangat. Dan dua jam bukan waktu yang cukup untuk menghangatkan bungkusan berisi cairan darah itu.
Sebenarnya, di dalam hati Nuke bertanya-tanya, “ Kemana perginya para perawat? Apakah mereka dipindahkan keruangan lain?”. Ia tak melihat satupun perawat yang biasa merawatnya. Maklum sudah sering Nuke masuk rumah sakit karena penyakitnya itu. hampir satu bulan setengah sekali, dia harus singgah di rumah sakit untuk membeli darah. Istilah ini lebih tepatnya, bukan tranfusi. Karena bagi Nuke, dalam tubuhnya tak bisa memproduksi darah lagi. Darah yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia tak bisa dihasilkan oleh tubuhnya. Organnya sudah mati. Rusak dan tak bisa kembali. Hanya dengan membeli darah lebih tepatnya, dia bisa hidup. Hingga kini, 21 tahun. Umur yang sangat miracle bagi seorang pengidap thalasemia seperti Nuke. Umur yang sangat di idap- idapkan oleh sebagian besar para pengidap penyakit ini. Nuke sendiri juga heran, mengapa dia bisa bertahan untuk tetap hidup. Padahal, kedua kakaknya meninggal karena penyakit itu. kakak perempuan atau kakak pertamanya, meninggal di usia 8 tahun. Sedangkan kakak laki-lakinya meninggal di usia 12 tahun. Ketika Nuke baru saja terlahir di bumi ini.
Nuke hanya satu-satunya pewaris keluarga Bintaro yang bisa tetap hidup. Tapi, ini memang sudah diantisipasi oleh ayah Nuke. Sejak kelahirannya, Nuke tidak dirawat oleh ibunya, dia bahkan  tak diberi ASI sama sekali. Cara ini, rupanya cukup ampuh untuk penderita thalesmia yang menurun secara genetic. Namun, pemisahan dari seorang ibu juga tidak menutup kemungkinan bagi seorang anak untuk terserang penyakit ini. Ini terbukti dengan sakit yang Nuke derita. Walaupun tujuan awal dari ayah Nuke, untuk menghindarkan Nuke dari penyakit itu. tetap saja, penyakit itu ia dapat pula. Hanya waktu kematiannyalah yang diperlambat.
***
Tak sampai dua jam perawat yang merawat Nuke datang lagi. Dia mengecek aliran darah yang menetes ke tubuh kecil Nuke. Nuke kaget. Dia tersentak. Dia bingung dengan apa yang dilakukan perawat itu kepadanya. Haruskah dia bertanya. Bertanya untuk memastikan. Bertanya untuk tidak begini. Bertanya untuk hal yang  tidak biasa dilakukan oleh seorang perawat pada proses tranfusi di tubuhnya. Sebelum dia memulai sebuah kata tanya, perawat itu sudah meningkatkan tekanan darahnya. Secepat motor Rossi yang melaju dengan kecepatan tinggi. Secepat lejitan pesawat olak alik. Dia serasa hipertensi. Tekanan darah yang masuk melalui infus mengalir bagai diguyurkan bukan hanya tetes demi tetes lagi. Tak kuat dia merasakan kecepatan tekanan darahnya. Senada dengan mulutnya yang tak kuat untuk mengucap sakit yang ia rasakan. Nuke pun mulai pingsan.
***
Ada gerakan ditangan Nuke. Gerakan yang mengisyaratkan Nuke telah tersadar dari komanya selama satu hari. Bita, adik sepupu Nuke yang menjaganya melihat peristiwa itu.
“ Mbak ! mbak Nuke! Mbak! Mbak Nuke!” Seru Bita senang melihat kondisi Nuke.
“ Dek, jam berapa?”. Tanya Nuke setelah dia tak sadarkan diri. Matanya masih sayup-sayup untuk melihat wajah orang yang berdiri dekat dengan wajahnya.
“ jam satu siang mbak.” Jawab Bita sembari mengusap butiran keringat di sudut keningnya.
“ Mbak, sehari semalam koma mbak” katanya kemudian.
“ Oya!”. Kata Nuke lemah. dia masih berat untuk mengangkat kepalanya. Dicobanya mengangkat kepalanya dan menarik tubuhnya keposisi yang lebih pas. Dia tarik tubuhnya keatas, dia masukkan tangannya diantara bantal dan seprei. Lalu dia tarik bantal itu sesuai dengan letak kepalanya. Bita yang tahu akan posisi Nuke yang tidak pas ikut membetulkannya sambil berkata, “ Mama sama papa lagi jemput ibunya mbak di Malang. Tapi, tenang mbak, aku tadi udah bilang ke mama kalau mbak udah siuman. Oya, mbak nggak lapar? ”. Tawar Bita.
“ He… eh, tapi dikit aja ya dek!”
“ Iya mbak” Bita mengangguk sambil mengambil makanan disamping kasur Nuke.
Nukepun makan disuapi oleh Bita. Otak Nuke pun bekerja disaat makan itu. Otak Nuke berusaha mengingat akan apa yang telah terjadi padanya. Dikala dia akhirnya terbaring lemah untuk membeli darah lagi. Walaupun belum genap satu bulan dia tranfusi darah. Mengingat itu semua membuat Nuke sakit dan perih. Mengingat itu semua membuatnya ingin mati cepat. Mengingat itu semua membuatnya menitihkan air mata.
“ Sudah mbak, nggak usah dipikirkan lagi” Bita menenangkan gejolak hatinya.
“ Bukannya, ibu mbak sudah bilang, mbak nggak boleh gitu ”. Tuturnya serambi memasukkan sesendok nasi ke mulut Nuke.
“Iya Dek, Mbak tahu” Tegasnya dengan mengusap air matanya yang telah jatuh dengan jari tengahnya.
Banyak orang yang mensupportnya, untuk melupakan apa yang telah terjadi antara dia dengan laki-laki yang dia sayanginya. Tapi dia tak bisa menyangkal kepedihan hati yang kini telah singgah didirinya. Kepedihan hati yang kini membuatnya terbujur hingga koma. Kepedihan hati yang membuatnya rasa sakit yang dideritanya semakin dalam ia rasakan. Sulit baginya untuk melupakan wajah itu, wajah yang pernah singgah dihatinya. Wajah yang pergi dengan sopan dari paling wajahnya.  
Kini wajah itu telah pergi, kenangan indah itu juga telah pergi. Dan harapan pun juga pergi. Pergi untuk selamanya. Meniggalkan sebuah luka bagi Nuke. Hingga akhirnya tak terbendung lagi untuknya dan terjatuh dalam sakit. Sakit baik fisik maupun batinnya. Dia melemah, kepalanya serasa memecah, tubuh mulai memanas, darah dalam tubuhnya serasa mengering dalam seketika. Ketika mendengar bahwa dia, cowok yang dicintainya telah menikah dengan orang lain yang bukan dia.
Dalam kondisinya yang masih terkapar diatas tempat tidur rumah sakit, ingatan Nuke masih jelas tentang apa yang menimpa relung hatinya. Dia masih ingat ketika cowok yang digandrunginya memgirimkan sebuah sms, yang isinya dia akan menikah. Menikah pada besok paginya. Betapa shocknya Nuke yang dimalam itu barusaja jatuh dari sepeda motor ketika dibonceng oleh Gita dari swalayan. Nuke melemas, raut mukanya memucat, kakinya tak mampu menompang tubuhnya yang hanya berbobot 20kg itu. Dia jatuhkan tubuhnya pada sofa. Jantungnya serasa berhenti untuk berdetak dalam sekian detik. Paru-parunya serasa berhenti, aliran darahnya serasa tak mengalir. Semua organnya serasa terpause. Tak hanya hatinya yang berhenti untuk memproduksi darah,  melainkan semua organnya seakan mulai mati. Bahkan rambutpun ikut mati, layu seperti bunga, rontok layaknya dedaunan.
Sock berat yang menimpa membuatnya merengkuh dalam tangisan. Dia tak kuat menahan beban itu sendirian. Tanpa teman atau ibunya. Dia dalam sedih yang sendiri. Ingin sekali dia menghubungi ibunya yang berada di Malang. Namun, malampun telah larut. Tak ada suara. Hanya nyanyian suara malam dan tangisannyalah yang mengisi. Tak lebih dan tak kurang dari itu. dia tak mampu membuat ibunya kawatir. Dia tak ingin ibunya pulang hanya karena soal itu, soal putus cinta, soal yang sangat-sangat sepele. Cukup sudah dia merepotkan ibunya. Pikirnya dalam hati. Sempat dia berpikir untuk menghubungi teman dekatnya yang kuliah di Surabaya. Tapi, dia urungkan niatnya. Dia takut kalau temannya lagi sibuk atau kelelahan. Meski diapun tahu, kalau temannya akan lekas mengangkat teleponnya dan mendengarkan ceritanya dengan seksama.
Malam itu Nuke benar-benar sendiri. Kesendirian malam itu, jauh berbeda dari malam-malamnya. Dia memang biasa sendiri dirumah. Ibunya yang seorang pengajar SD, tinggal beda rumah dengannya. Seminggu sekali ibunya menjenguknya, atau menemani anak semata wayangnya itu. maklum, jarak kota Malang dengan Blitar cukup jauh jika dilalui dengan angkutan umum. Butuh waktu dua jam lebih jika ingin saling bertemu hanya untuk melepas rasa kangen antara anak dan ibu. Toh, Nuke juga tinggal bersebelahan dengan paman dan bibinya. Jadi, jika dia butuh sesuatu, dia bisa minta tolong pada mereka yang dianggapnya seperti orang tua sendiri. Selain itu, Nuke juga ingin hidup mandiri. Tanpa ada rasa ketergantungan dengan orang lain.
            Namun, setiap manusia dilahirkan untuk hidup bersama dengan orang lain. Nuke tidak bisa menyangkal bahwa dimalam yang hampa itu, dia butuh sandaran dari orang lain. Dia butuh orang untuk mencurahkan semua uneg-uneg dalam hatinya. Dia butuh seseorang menenangkan dan mententramkan jiwanya. Dia butuh seseorang untuk mengatasi kepedihan hatinya. Kepedihan dan kesedihan yang membawanya untuk tak bisa memejamkan matanya. Dalam tatapan mata yang diam dan kosong, dia tak mampu lagi bertahan. Bertahan dari sesak yang mendalam. Seakan sesak itu diakibatkan oleh hantaman batu yang mengena pas ditengah-tengah dadanya, dan menekan aliran napasnya. Dia bulatkan tekat untuk menghadap sang pencipta. Diambilnya air wudlu lalu dibasuhkan keseluruh rautan wajahnya. Dia rasakan kesucian aliran air itu mengembalikan organ-organ tubuhnya yang telah mati. Air suci itu seolah menghidukan kembali semua urat-urat nadinya. Menghidupkan jiwanya yang tengah dilanda akan kematian. Dia bersujud kepada Dzat yang memberinya kehidupan. Dia bersujud atas apa yang Dzat beri untuknya. Dia bersujud untuk segala ampunan dosa. Dia juga memohon akan diberikan ketabahan kepadanya. Ketabahan untuk menerima dengan ikhlas atas semua yang akan terjadi dalam hidupnya pada esok maupun kelak. Tak lupa juga dia berdoa untuk kebahagiaan. Kebahagiaan untuk dirinya dan juga seseorang yang mungkin malam itu dia telah mempersiapkan diri, jiwa, materi untuk hari pernikahannya di hari besoknya.
Nuke ingat jelas, malam itu dia tak tertidur sedetikpun. Dia gunakan malamnya untuk berdoa hingga pagi pun mengganti posisi malam. Dan dipagi buta, dengan segera ia sucikan baik rohani maupun jasmaninya dengan bersih. Sebersih air yang mengalir dari mata air pegunungan tinggi. Setelah memandikan dan mensucikan tubuhnya, dia pergi kerumah pamannya yang berada tepat disamping rumahnya. Dia panggil anak bungsu pamannya yang laki-laki untuk mengantarkannya pergi ke KUA.
Di KUA, dia berniat melihat langsung proses pernikahan cowok yang di sukainya itu. dari jam 7.00 pagi dia sudah stand by di depan KUA. Ditunggunya Agung, nama cowok itu, di sebuah warung dekat KUA. Dia  kemudian makan dengan adik sepupunya diwarung itu, sebagai asupan energinya agar kuat dan  untuk mengamati KUA, dimana tempat akad nikah berlangsung.
Satu jam pun berlalu, tak ada satu mobilpun yang terlihat memasuki kantor tempat melaksanakan akad pernikahan itu. Nuke berusaha untuk mengintip apa yang telah terjadi. Dia tidak mau untuk tertinggal posesi akad nikah Agung sedetik pun. Dia mendekat ke masjid di depan KUA. Dia tatap apa yang ada di depannya. Dicarinya sosok Agung diseluruh penjuru masjid dengan ujung mata elangnya. Dari sisi kesisi sudut matanya memandang. Tak ditemui seorangpun yang mirip dengan wajah Agung. Bayanganpun juga tak ada. “ Dimana?” tanyanya dalam hati.
“ Semua sudah berakhir” batinnya. “ Aku sudah terlambat”. Nuke mulai meninggalkan tempat itu, dia membalikkan badannya. Dia coba melangkahkan kakinya perlahan. Tepat dia langkahkan kakinya untuk melewati pagar, ada mobil berhenti pas didepannya. Mobil itu, sibuk mengeluarkan orang-orang yang ada di dalamnya. Dan salah satu diantaranya ada seorang yang dia tunggu-tunggu. Agung. Lelaki yang dia tunggu tiga jam lamanya.
Saat itu, Nuke bingung dan tercengang. Bingung akan berbuat apa dan tercengang karena Agung baru saja tiba. Tanpa berpikir lama, Nuke mencari tempat untuk bersembunyi. Dia mencoba berlari mencari tempat yang bagus untuk bersembunyi. Namun sayangnya, dia sudah kepergok sama Agung. Ketika dia mengintip dan menundukkan kepalanya di sebelah pagar, Agung melihatnya. Agung tertawa ke arahnya. Nuke benar-benar tak menyangka. Semua mata tertuju padanya. Kakak Agung, Ayahnya, ibunya dan calon istrinya. Cepat-cepat ia meninggalkan tempat itu. Secepat dia bisa. Dan secepat mungkin adalah hal yang terbaik untuknya. Mencoba untuk melepaskan semua kepedihan yang dialaminya.
 Tapi, rasa ini membuatnya semakin depresi. Hingga akhirnya dia jatuh sakit. 
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar